Ulti Clocks content
PENGUNJUNG
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini76
mod_vvisit_counterKemarin77
mod_vvisit_counterMinggu ini211
mod_vvisit_counterBulan ini550
mod_vvisit_counterTotal25050
Home Berita Environmental Insight Quotient (EIQ) sbg Instrumen Uji Kepemimpinan Berwawasan Lingkungan

Environmental Insight Quotient (EIQ) sbg Instrumen Uji Kepemimpinan Berwawasan Lingkungan

 MENGUJI PEMIMPIN NEGARA BERWAWASAN LINGKUNGAN MALALUI INSTRUMEN ENVIRONMENTAL INSIGHT QUOTIENT (EIQ)

 
DR. Prabang Setyono

Ketua Program S2/S3 Ilmu Lingkungan – Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret
Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (IALHI)

Paradigma (mindset) lama manusia terhadap lingkungan berupa Inward looking yang bersifat on order, structur, hyrarchy, centralization and control akan berubah menjadi paradigma baru yang berupa flexibility, networking, teamwork, delayering, developing people, federation, empowering and enabling. Environmental Insight akan melahirkan kebijakan pemimpin yang berwawasan lingkungan. EIQ merupakan sebuah pendekatan instrumen uji terhadap Tilikan seseorang (pemimpin) tentang lingkungan secara komprehensif dan integral. Pemikiran ini diilhami oleh suatu konsep Bioindikator merupakan entitas untuk mengetahui kondisi kualitas lingkungan dengan menggunakan agen hayati, namun jika EIQ merupakan entitas untuk mengetahui kualitas tilikan (insight) dari sumberdaya manusia (pemimpin) terhadap lingkungan secara integral dan komprehensif dengan menggunakan agen instrumen uji EIQ.

Orang yang berakal (Ulil Albab QS. 3: 190-191) adalah orang yang berdzikir, berfikir, dan aktif berikhtiar. Berdzikir dengan iman, berpikir dengan rasio, dan berikhtiar dengan keindahan rasa, sehingga akal terdiri dari tiga bagian penting yaitu Iman, Rasio, dan Rasa. Iman melahirkan SI (Spiritual Intelligence) yaitu kecerdasan spiritual, sedang Rasio melahirkan IQ (Intelligence Quotient) yaitu ukuran kecerdasan intelektual dan rasa melahirkan EI (Emotional Intelligence) yaitu kecerdasan emosi. Modal seperti itulah yang seharusnya terintegrasi dalam kepribadian pemimpin. Aspek tersebut dapat berfungsi sebagai Power to, Power with dan Power within menuju manusia yang berkepribadian kuat.

Rasio (IQ) sebagai saran kita untuk mengindera semua yang ada di alam semesta ini, misalnya kita melihat gunung, sungai, jalan, dan sebagainya. Rasio ini cenderung berkolaborasi dengan otak kiri yang cara kerjanya antara lain: konvergen, digital, abstrak, proporsional, analitik, linier, rasional dan objektif (Short Term Memory). Hasil penelitian menunjukkan bahwa IQ hanya mampu memberi sumbangan terhadap keberhasilan manusia maksimal 20% selebihnya atas andil Emosi dan Spiritual.

Rasa (EI) akan melahirkan empati yaitu kemampuan seseorang untuk dapat merasakan apa yang ada dan terjadi pada lingkungan sekitarnya (tenggang rasa/tepo seliro). Rasa ini cenderung menggunakan otak kanan, yang cara kerjanya antara lain:Divergen, analogi, primer, konkret, sintetik, holistik, relasional, subyektif (Long Term Memory).

Iman (SI) merupakan potensi fitrah yang selalu melekat pada diri manusia, yaitu potensi Illahiah (Ketuhanan).Siapapun manusia secara hakiki menginginkan: kekuatan dari luar dirinya dengan berdoa, ingin masuk surga, hidup dalam kedamaian,keikhlasan,keadilan, kasih sayang dan mendapatkan keridhoan dari sang pencipta (Alloh). Potensi fitrah ini sudah tertanam dalam jiwa manusia sejakkita dialam ruh seperti dalam (QS. 30:30). Fitrah artinya suci/alami/bawaan (inheren) maka fitrah Alloh sesuatu yang pasti ada pada Alloh yaitu sifat dan Asma Alloh. Kefitrahan sifatdan AsmaNya itulah yang ditanamkan/diturunkan oleh Alloh pada jiwa yang bersemayam di dalam hati manusia yang berupa HATI NURANI. Jika Alloh maha Pemelihara maka kita bisa berlaku sebagai pemelihara karena jiwa pemelihara sudah Alloh tanamkan di dalam hati kita, kalau Alloh maha adil maka kita juga bisa berlaku adil terhadap alam artinya kita bisa menjalankan 99 nama Alloh (Asmaul Husna) itu. Tugas manusia adalah mengejawantahkan turunan sifat dari nama Alloh, sehingga kalau kita bisa menolong orang lain jangan sombong karena kita baru menjalankan satu turunan sifat/nama Alloh yang Maha Penolong, mungkin sifat/nama Alloh yang lain belum kita laksanakan padahal kita adalah khalifah/wakil Alloh di Bumi yang harus menjalankan dari yang kita wakili (Alloh). Semua amal/aktifitas manusia tergantung pada jiwa karena dalam jiwa manusia ada potensi fujur/jelek dan taqwa/baik seperti dalam (QS. 91:8-10).

IQ dikembangkan untuk memahami dan menganalisis permasalahan lingkungan sehingga menjadi KERJA CERDAS (work smart) bukan work hard sehingga melahirkan insan Profesional (aman hukum). EI dikembangkan untuk berinteraksi dan merasakan sehingga melahirkan KERJA MAWAS (aman citra atau Peduli). SI dikembangkan untuk merenung dan mamaknai setiap aktifitas kehidupan kita sehingga melahirkan KERJA IKHLAS (aman syar'i atau Bersih). EIQ dikembangkan untuk memahami lingkungan secara mendalam dan komprehensif sehingga melahirkan kerja TUNTAS (kebijakan yang tidak meninggalkan masalah lingkungan).

Berdasarkan konteks kesadaran terhadap pengelolaan lingkungan maka dimunculkannya konsep EIQ (Environmental Insight Quotient) yang mempunyai makna Kecerdasan Tilikan/wawasan mendalam tentang Lingkungan, sehingga untuk mewujudkan manusia yang amanah dalam pengelolaan lingkungan maka penajaman EIQ perlu diimplementasikan terhadap setiap diri manusia khususnya stakeholder pemegang kebijakan terhadap lingkungan. Konsep ini merupakan Reengineering dan Reinventing kaidah dasar kepemimpinan yang berwawasan lingkungan. Konsep EIQ ini akan melahirkan KERJA TUNTAS (aman ekologi atau kehidupan berwawasan lingkungan atau kebijakan yang tidak meninggalkan masalah tehadap lingkungan). Pemimpin yang integral dengan lingkungan akan melahirkan kepemimpinan yang seharusnya berwawasan lingkungan yang legitimate, otoritatif, visible dengan visi kepemimpinan yang berwawasan lingkungan yang terukur.

Program pemerintah yang dicanangkan berdasarkan konsep berwawasan lingkungan seharusnya mensinergikan antara konsep IQ+EQ+SI+EIQ=Insan Berwawasan Lingkungan. Langkah pertama untuk mengimplementasikan konsep ini adalah perlunya para calon pimpinan/birokrat dalam skala lokal dan nasional diuji atau dilakukan Fit and Proper Test tentang EIQ. Jika aspek IQ, SI dan EQ mungkin instrumennya sudah sering dilakukan dan sudah berjalan, namun untuk EIQ perlu rekontruksi instrumen uji yang harus dikaji secara mendalam oleh para ahli Lingkungan dan Psikologi Terapan.

Nilai kuantitatif dalam merumuskan EIQ adalah akumulasi dari aspek (PERSEPSI+INFORMASI+INTUISI+ASPIRASI thd prinsip Lingkungan) = skala EIQ. Hasil dari pegukuran EIQ tersebut dalam menentukan aspek kepemimpinan yang berwawasan lingkungan akan mempunyai output/luaran yang spekulatif, relatif dan korelatif. Jika nilai yang tersurat dalam tes EIQ itu dijadikan dasar dalam menentukan pemimpin yang berwawasan lingkungan akan mempunyai nilai yang signifikan dengan validitas dan reliabilitas terhadap instrumen ujinya.

Kepemimpinan berwawasan lingkungan merupakan sebuah potensi, proses dan prestasi. Setiap generasi pemimpin pasti mempunyai potensi namun jika proses menuju peningkatan nilai EIQnya optimum maka akan mendapatkan prestasi berupa karakter kepemimpinan yang berwawasan lingkungan . Konsep kepemimpinan berwawasan lingkungan ini tercermin dalam filosofi orang jepang yang berupa Seiri (sisihkan), Seiton (susun),Seiso (bersih), seiketsu (tertib) dan sitsuke (latih diri). Prinsip dari berperikehidupannya adalah selalu melakukan survival di lingkungan dengan konsisten melaksanakan ketidakbolehan yaitu Tidak boleh MEMBUNUH makhluk hidup kecuali membunuh waktu (efisiensi energi), Tidak boleh MENGAMBIL komponen lingkungan kecuali mengambil fotonya (melakukan konservasi) dan Tidak boleh MENINGGALKAN sampah kecuali meninggalkan jejak (tidak melakukan pencemaran). Paradigma pemimpin yang tidak berwawasan lingkungan akan mempunyai prinsip DO WHAT CAN BE DONE (mengelola sumberdaya apapun dengan prinsip eksploitasi), namun jika berwawasan lingkungan akan berprinsip DO WHAT SHOULD CAN BE DONE (mengelola sumberdaya dan memanfaatkannya yang seharusnya dimanfaatkan saja secara proporsional). Demikian halnya seperti prinsip TAKE WHAT YOU WANT (mengambil sumberdaya sesuai keinginan yang umumnya hanya berorientasi ekonomi semata) yang merupakan prinsip pemimpin dengan nilai EIQ rendah, namun jika berwawasan lingkungan maka akan mempunyai prinsip TAKE WHAT YOU NEED (mengambil Sumber Daya yang diperlukan saja).

Kategorisasi kepemimpina berwawasan lingkungan berdasarkan konsep pewayangan sebagai implementasi instrumen uji EIQ meliputi:

1. Kepemimpinan Nakulo-Sadewo (Harmonisasi); instrumen uji EIQ berupa keefektifan dan nilai partisipatif terhadap pengelolaan lingkungan

2. Kepemimpinan Kresno-Anoman; instrumen uji EIQ berupa kemampuan mengelola lingkungan dengan berpikir lokal namun bertindak global

3. Kepemimpinan Bimo-Kumbokarno; instrumen uji EIQ berupa kemampuan mengelola sumberdaya dengan jiwa nasionalismenya, kuat, kepatuhan terhadap hukum dan jujur serta tidak naif

4. Kepemimpinan Yudhistira-Puntodewo; Instrumen uji EIQ berupa kedermawanan dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya agar dapat memberikan kontribusi yang nyata terhadap lingkungan secara global.

Kepemimpinan berwawasan lingkungan secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam perannya secara INTERPERSONAL (figurehead,leader dan liasion) terhadap program-program lingkungan, INFORMASIONAL (monitor, diseminator dan spokesman) terhadap arus dinamika informasi lingkungan lokal, regional dan global, serta DECISION MAKER (entepreneur, disturbance, handler, resource allocator dan negotiator) dalam mengeluarkan program-program dan peraturan yang berwawasan lingkungan. Mempunyai ketiga sifat kepemimpinan seperti itu memang sangat ideal sehingga perlu dijadikan acuan dalam membuat instrumen ujinya.

PUSTAKA

1.Abdurrahman, Basuki. 2008. dalam Training Sinergy Leadership Center. Yogyakarta
2. Bateson, Gregory; Steps to an Ecology of Mind. New York: Ballantine, 1972
3. Bateson, Gregory; Mind and Nature. New York: Ballantine, 1979
4. Capra, Fritjof; The Web of Life, HarperCollins, London, 1996
5. Goleman, Daniel, Kecerdasan Emosional (terjemahan), cet. VII, PT Gramedia Pustaka Utama,    
    Jakarta, 1997
6. LeDoux, Joseph; Emotion, Memory and The Brain, Scientific American, edisi June, 1994
7. Llinas, Rudolfo dan Urs Ribary; Coherent 40-Hz Oscillation Characterizes Dream State in Humans,
    Proceeedings of The National Academy of Science, USA, 1993
8. Maturana, H. R. dan F. J. Varela; Autopoiesis: The Organization of the Living, dalam “Autopoiesis
    and Cognition: The Realization of the Living”, Dordrecht: D. Reidel Publishing Company, 1973
9. Prigogine, Ilya dan Isabelle Stengers; Order out of Chaos, New York: Bantam Books, 1984
10. Russel, Stuart and Peter Norvig; Artificial Intelligence: A Modern Approach, Prentice-Hall Inc., 
     New Jersey, 1995
11.Zohar, Danah and Ian Marshall, Spiritual Intelligence : The Ultimate Intelligence, Bloomsbury,
     London, 2000
 

Pemutakhiran Terakhir ( Rabu, 25 Agustus 2010 14:44 )